Keuntungan Pertemuan Titik
Sebuah meditasi tentang konvergensi dan makna
Logika di dalam ruang paling beku.
Ini tentang keduanya—dua sosok yang berdiri tegak dan kekar,
dalam kesejajaran yang nyaris sempurna.
Semua mata menatap arah ujung,
menyaksikan garis lurus yang tak pernah benar-benar bersua.
Apa yang terbentuk di ujung-ujung lain kian menjelas,
tanpa perlu menyudutkan pandangan mata demi kepastian ukuran.
Tiada guna membusungkan dada hingga membusur,
sekadar tampak akurat, pantas beroleh angka prestasi,
sembilan puluh, seratus, atau sekadar gengsi.
Bilakah keduanya akan bertemu di ujung yang sama—
menyimpul arti, atau justru mengoyak definisi
yang selama ini dianggap kunci terbaik bagi segala pengertian?
Ini masa berlini—masa ketika segalanya tampak teratur dalam kaidah,
namun tidak bagi diri yang melihat lebih luas dari sekadar jadah,
yang kematangannya dilebarkan di atas tampah beralas daun pisang bergetah,
lalu dipotong kecil-kecil untuk dibagikan sebagai jatah
kepada siapa pun yang masih dianggap bocah,
termasuk kaki-nini yang menatap keadaan itu
meronta perlahan, tertatih menjauh karena tak lagi betah.
Ia mengenali sebuah titik—jauh di ujung sana,
terpisah dari hiruk pikuk kehidupan yang memekakkan rungu.
Kekekaran dan ketegaran membawa arah yang sama,
namun semua tahu: tiada mungkin kedua ujung itu bersatu.
Katub keyakinan tentang tingginya keilmuan
disimpan sementara dalam kantung kesadaran.
Kubu yang dulu menolak karena sama,
kini menyatu karena beda.
Nilai-nilai hitungan yang dulu membanggakan,
mampukah kini dijadikan transaksi?
Menari-nari, debu mencari jati diri,
urat bertulang besi di balik labirin pemisah.
Sesamar pesan asmara berhasrat mencapai pelabuhan cinta,
melabuhkan harapan terbaiknya,
terus terbang bersama spora-spora kecil
menggapai kutubnya sendiri—
untuk hinggap, singgah,
dan menetap dalam mimpi-mimpi malam yang tak pernah selesai.
No comments:
Post a Comment