ONE From the Past

Dengan degup jantung yang berdesir kacau, Levina perlahan berbalik. Di hadapannya, berdiri seorang lelaki dengan senyum yang terlalu familiar untuk dilupakan. Sorot matanya masih sama—hangat dan dalam—seperti lautan yang dulu pernah ia jelajahi.

"Rendra...?" suaranya terdengar parau, hampir seperti bisikan.

Dialah Rendra, cinta pertamanya di Jogja sembilan tahun silam. Pria yang menghilang tanpa kabar setelah mereka berdua sama-sama terluka oleh kesalahpahaman yang tak pernah terselesaikan.


***

"Ya, aku," sahut Rendra, tangannya takzim menenteng beberapa buku tebal. Senyumnya mengembang, namun matanya menyorotkan kehati-hatian. "Aku baru dua minggu di sini, dapat posisi sebagai visiting professor untuk satu semester."

Levina hanya bisa mengangguk kaku, rasanya seluruh pelajaran tentang teori sosiologi kompleks lenyap dari otaknya. Dunia seolah bergerak dalam slow motion. Suara Rendra—yang pernah membisikkan janji di Candi Borobudur, berdebat tentang filsafat di warung kopi, dan menyampaikan kata-kata perpisahan yang menyakitkan melalui telepon—kini terdengar begitu nyata.

"Aku... aku tidak menyangka," ucap Levina akhirnya, berusaha terdengar biasa. "Selamat datang."

"Terima kasih," jawab Rendra. Diam sejenak terasa tegang. "Katanya kau mengambil doktoral di sini. Hebat, Lena." Panggilan akrab itu menyentuh memori paling dalam di hati Levina.

Pertemuan tak terduga itu pun berakhir dengan kikuk, ditutup dengan janji untuk minum kopi suatu hari—janji yang keduanya tahu bisa saja hanya formalitas.

Hari-hari berikutnya, Levina seperti hidup dalam kabut. Setiap sudut perpustakaan, kafe kampus, atau koridor gedung tua seolah menyimpan bayangan Rendra. Mereka beberapa kali bertemu, selalu dengan percakapan singkat dan sikap yang masih saling mengukur.

Suatu sore, di bawah rindangnya pepohonan maple yang mulai menguning, Prof. Eleanor memperhatikan kegelisahan Levina.

"Someone from your past, my dear?" tanya Prof. Eleanor dengan suara berwibawa, sambil menyeruput tehnya.

Levina terkejut. "Bagaimana Profesor tahu?"

"Ah, di usiaku, kita bisa mengenali tatapan seseorang yang sedang bertarung dengan hantunya sendiri. Hanya masa lalu dan cinta yang bisa membuat sesorang sesepi itu." Prof. Eleanor tersenyum. "Terkadang, hidup memberi kita kesempatan kedua untuk menyembuhkan luka, bukan untuk mengulang kisah lama."

Nasihat itu menggantung di pikiran Levina.

Kesempatan itu datang ketika Ariel, asisten Rendra yang energik, tanpa sengaja mempertemukan mereka berdua dalam acara makan malam kecil-kecilan di apartemennya. Di sanalah, di antara tawa riang Ariel dan cerita-cerita tentang kehidupan di Chapel Hill, tembok itu perlahan retak.

Malam itu, setelah Ariel masuk ke kamarnya, Levina dan Rendra akhirnya berdiri berdua di balkon, ditemani langit malam North Carolina yang bertabur bintang.

"Lena," Rendra memecah kesunyian. "Aku tahu kita punya banyak hal yang belum selesai. Aku... aku tidak pernah meminta maaf atas caraku menghilang dulu. Ibuku sakit keras, aku harus pulang ke Surabaya, dan segalanya menjadi sangat berantakan. Aku egois. Aku pikir dengan memutuskan semua kontak, lukanya akan lebih kecil."

Levina menarik napas dalam. "Sepuluh tahun, Ren. Aku tidak hanya kehilangan kamu, tapi juga kepercayaanku."

"Aku tahu. Dan aku tidak berharap kau memaafkannya dengan mudah. Tapi izinkan aku menjelaskan, kali ini. Bukan untuk kembali seperti dulu, kita sudah berbeda. Tapi untuk menutup luka itu dengan benar."

Mata Levina berkaca-kaca. Inilah yang selama ini ia hindari, sekaligus ia rindukan—sebuah penutupan, sebuah kejelasan.

Kisah mereka tidak serta-merta kembali mesra. Butuh waktu, percakapan yang jujur, dan usaha dari kedua belah sisi. Levina belajar melepaskan dendam, sementara Rendra belajar untuk lebih terbuka. Mereka mulai menjelajahi North Carolina bersama, dari pusat kota yang sibuk hingga ke pedesaan yang tenang, sambil membangun kembali kepercayaan yang pernah runtuh.

Di sebuah danau yang sunyi, di bawah rindangnya pepohonan pinus, Rendra memegang tangan Levina. "Aku tidak akan memintamu untuk melupakan sembilan tahun yang hilang, Lena. Tapi bisakah kita menulis bab baru? Bukan sebagai Levina dan Rendra yang dulu, tapi sebagai kita yang sekarang—lebih dewasa, mungkin lebih banyak luka, tapi pasti lebih mengerti arti kehilangan dan pertemuan."

Levina menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam satu dekade, ia melihat bukan bayangan masa lalu, tetapi sebuah kemungkinan untuk masa depan. Senyum kecil mengembang di bibirnya.

"Bab baru," gumamnya, menjabat tangan Rendra dengan erat. "Aku suka gagasan itu."

Dan di universitas yang jauh dari tanah kelahiran mereka, di antara buku-buku dan musim yang berganti, sebuah kisah cinta untuk segala usia kembali menemukan nadanya. Bukan sebagai repetisi, tetapi sebagai simfoni baru yang dimainkan oleh dua musisi yang lebih bijak.



Tokoh-tokoh dalam Kisah:


1.  Levina Khumaira (30 tahun): Seorang dosen muda bidang Sosiologi dari Indonesia, sedang menempuh program doktoral di University of North Carolina, AS. Perempuan independen dan cerdas, namun masih menyimpan luka lama di hatinya.

2.  Rendra Mahesa (32 tahun): Mantan kekasih Levina di Jogja, kini menjadi visiting professor dan peneliti tamu di kampus yang sama. Seorang yang tekun dan pendiam, dengan rasa bersalah yang dipendam selama bertahun-tahun.

3.  Prof. Eleanor (68 tahun): Supervisor Levina, seorang profesor tua yang bijaksana dan tajam, sering memberikan nasihat kehidupan di luar akademik.

4.  Ariel (25 tahun):Mahasiswa S2 yang menjadi asisten penelitian Rendra. Ceria, blak-blakan, dan tanpa sengaja sering menjadi 'pemecah kebekuan' antara Levina dan Rendra.


No comments:

Post a Comment

ada yang lain

cara malam dan cara siang dipilih menjadi pembeda ngonten buat bikin apa dia Tiada pernah dilukiskan  diawal langkahnya saat itu Terang wakt...