Sunday, June 7, 2026

Untuk Apa?

Untuk apa?

Usai letih mengarungi arus... yang riaknya tiada berujung jauh,

kini kupilih menepi. Cukup. Aku enggan melangkah lebih jauh hanya untuk sibuk berburu hal yang semu.

Biar saja mereka di luar sana terus memperebutkan takhta dan tempat terhormat,

demi seonggok pengakuan sebagai sang profesional.

"Heoi, anjing kecil! Kau menyerah? Kau menolak masuk ke dalam daftar elite itu? Bukankah semua temanmu sedang tergila-gila untuk menembusnya?"

Kucatat saja setiap jengkal kemauannya, juga segala repetisi kata yang ia agungkan. Memang, tiada impresi sketsa wajah atau ekspresi nyata yang tertuang dari sosoknya. Namun, setiap huruf yang ia muntahkan sudah lebih dari cukup untuk melengkapi mimik dan gimik pongah tentang dirinya.

Maka, kupakai cara lama: hempaskan saja pengaruh semu yang ia tebarkan ke dalam kubangan lumpur yang kelak akan diinjaknya sendiri. Sebuah ego yang terlalu dangkal untuk dijadikan pegangan; sebuah model usang yang sama sekali tidak menumbuhkan apa-apa. Lagipula, ucapan selamat tinggal pun terlalu mewah untuk manusia sepertinya.

Lihatlah batu-batu alas yang kini mulai berakar. Mereka merekat kuat, tiada bergeser barang se-inci pun, bahkan saat hujan deras bagai ditumpahkan dari langit. Batas-batas prinsip masih berdiri nyata di sana, setiap marka masih utuh. Ketetapan hati dan ketepatan langkah inilah yang menuntun jiwa menjangkau presisi hidup yang hakiki.

Jalan yang kupilih ini bukanlah cara instan untuk menjadi sempurna, bukan pula sekadar proses amatir mencari yang terbaik. Siapa bilang anjing akan lupa pada gonggongan yang pernah menggetarkan batinnya, tatkala sebuah kebenaran sejati datang mendekat? Dia hanya tidak pernah belajar memilih kata yang pantas untuk keluar dari mulutnya—apalagi menghargai orang-orang yang pernah pasang badan bersamanya.

Maka, serahkan saja panggung kehormatan itu jika kau pandang perlu. Lagi pula, tempat penuh sandiwara itu memang sangat layak untuknya!

Wednesday, May 13, 2026

Seasal Coretan Milikmu

Malam itu engkau datang

Tiada pula kau bawakan 

Setangkai kembang.. 


Tiada wajahmu berias warna

Wasabi-sabi belum memudar 

Seadanya .... 

tanpa bintik-bintik buatan tanganmu

Berusaha mengambangkan langkah

Mimitik lembut bagai beralas luas

Hamparan daun-daun kering, 

Dalam keras usaha agar tiada menimbul, 

Gemerisik yang akan mengusik;

Ia yang sedang berdiam mengulik 

Dalamnya inti yang katanya kian banyak

Dicari tanpa membuka dan menutup

Setiap pembungkus-pembungkus;

Juga tiada keharusan menghancurkan

Menghancurkan setiap pelapis, 

Tarikan nafas dan langkah 

yang semakin kau satukan, 

Semakin mencantikkan ... ketidaksempurnaan

Perlambang boleh dimunculkan, 

Pun dalam kubangan;

Kau mungkin tiada mengerti, siapa yang telah kau bangunkan, 

Bisa jadi hingga kini, luput mengisahkan bagian ingatan, akan sebenarnya siapa yang tidak pernah bicara lelah, ... Tetap setia menemani. 🥸


Thursday, April 30, 2026

Kirain Bisa

Lihat, ...

ia memang melihat setelahnya

Apa yang dihubungkan

Menjadi lebarnya penawar

Mengganti dianggapnya cara terbaru

Tanpa asap juga tanpa perapian

Kisah layar dingin membuatnya

mundur dari taburan cerita;


Tangga dan lantai lain kini berjubin, 

Dinaiki pilin menikung waspada dengan nyala lilin;

katanya pengoprek dalam jibaku sembunyi tempat, 

Tanpa maksud, tampan tujuan membuat panggilan singkat, 

Sambil menawarkan keasinan setetes air laut, siasat asalan tanpa meminta diturut;

Ngebul meneroscos selancar bibir pengibul, 

Nitip anu dan nitip pesannya, menggunung di berandan pesanggrahan yang terkadang seram dan suram hingga dikeramatkan;

Andai sempat langkahmu dulu kau sembunyikan, andai kepongahan tidak menjubali setiap ruah dan masih dalam ikatan semua cerita akan menjadi tidak sama,... Ini sebuah rumusan, bukan lagi lagi nilai sesal akan perlakuan dan pembagian, 

Ia sangat penyebut sebenarnya dan bukan kamuflase... Telah menjadi orang yang terbilang setelah melewati kesamaan jalan panjang sang petualang, katanya,... 

Masih banyak, 😆 cuma lebih kurang telah tampak wajah malamu untuk dibingungkan semakin banyak🚎


Tuesday, March 10, 2026

Sisi-Sisi Lain

Oase sepi di awal pagi, di samping gubuk bambu bersanding perapian kecil, 

Bersanding dalam depa terpandang aliran setia membuka tawaran pada hati yang telah merdeka merasakan kehangatan mentari... 


Percikan air bening lembut mengeringi

Lompatan lembut sebagai nyanyian caranya

Menyuarakan pesan lewat tempat di sana, 

Di atas bebatuan dan pasir 

Ia keluar dari dalamnya celah bebatuan


Ia tidak mengeluarkan dalam hitungan, 

Ia tampak mengeluarkan isi terbaiknya, 

Semua tampak sama, tiada ada warna beda, 

Senyatanya semua selalu baru dari yang ada, 

Dan telah menjauh, turun jauh kesana, ketempat yang semakin jauh tanpa tahu lagi berapa jauh kini berada;


Sisi lain yang tiada menjenuhkan, 

Seolah menjadi pemikat hati tetap berdiam, 

Mendengar bagaimana ia tidak menggunakan empat kakinya menghentak kan nada, mencipta nuansa ritmis membawa pesan melankolis dalam tuangan mendambakan masa lalunya untuk kembali, 

Magnit kecil, ya ia telah menjadi demikian di bentuk di tepian suara utama yang dibendung eksploitasi kuasa, pengampu kekang yang membawa entah akan kemana setelahnya; 🥝