Tuesday, June 23, 2026

Salah Tangkap

Salah Tangkap

Salah Tangkap

Kamu bukan penangkap,
Tenanglah malam ini…
Kamu tidak salah.
Hanya pernah kudengar,
berita salah tangkap,
berita yang berulang,
berita yang bohong.
Salah tangkap!
Karena terlalu banyak tangan,
terlalu banyak suara,
terlalu banyak yang ingin menangkap.
Dan selalu ada,
salah tangkap yang lain,
salah tangkap yang berkelas,
katanya, demi kualitas.
Tidak mustahil,
silah santun untuk duduk,
masuk dalam cerita panjang,
cerita salah tangkap,
cerita pendudukan.
Lamanya pendudukan,
dera iklim merampas hasil,
panen tinggal cerita,
bahasa kehilangan makna,
komoditi berganti piranti,
modern, berkilau,
namun tetap… salah tangkap.
Yang didudukkan kini menduduki,
yang menduduki kini dipertanyakan,
walau jelas-jelas dipersilahkan.
Memang, ada zaman pendudukan,
ada perampasan,
ada yang kehilangan.
Namun di sana,
ia hanya diajak minum kopi.
Apakah ia kelewatan?
Oooh… kukira,
ia hanya salah tangkap!
— Puisi Pementasan —

Monday, June 8, 2026

Titik yang Tak Pernah Bertemu

Keuntungan Pertemuan Titik - Puisi

Keuntungan Pertemuan Titik

Sebuah meditasi tentang konvergensi dan makna

Logika di dalam ruang paling beku.
Ini tentang keduanya—dua sosok yang berdiri tegak dan kekar,
dalam kesejajaran yang nyaris sempurna.
Semua mata menatap arah ujung,
menyaksikan garis lurus yang tak pernah benar-benar bersua.
Apa yang terbentuk di ujung-ujung lain kian menjelas,
tanpa perlu menyudutkan pandangan mata demi kepastian ukuran.
Tiada guna membusungkan dada hingga membusur,
sekadar tampak akurat, pantas beroleh angka prestasi,
sembilan puluh, seratus, atau sekadar gengsi.
Bilakah keduanya akan bertemu di ujung yang sama—
menyimpul arti, atau justru mengoyak definisi
yang selama ini dianggap kunci terbaik bagi segala pengertian?
Ini masa berlini—masa ketika segalanya tampak teratur dalam kaidah,
namun tidak bagi diri yang melihat lebih luas dari sekadar jadah,
yang kematangannya dilebarkan di atas tampah beralas daun pisang bergetah,
lalu dipotong kecil-kecil untuk dibagikan sebagai jatah
kepada siapa pun yang masih dianggap bocah,
termasuk kaki-nini yang menatap keadaan itu
meronta perlahan, tertatih menjauh karena tak lagi betah.
Ia mengenali sebuah titik—jauh di ujung sana,
terpisah dari hiruk pikuk kehidupan yang memekakkan rungu.
Kekekaran dan ketegaran membawa arah yang sama,
namun semua tahu: tiada mungkin kedua ujung itu bersatu.
Katub keyakinan tentang tingginya keilmuan
disimpan sementara dalam kantung kesadaran.
Kubu yang dulu menolak karena sama,
kini menyatu karena beda.
Nilai-nilai hitungan yang dulu membanggakan,
mampukah kini dijadikan transaksi?
Menari-nari, debu mencari jati diri,
urat bertulang besi di balik labirin pemisah.
Sesamar pesan asmara berhasrat mencapai pelabuhan cinta,
melabuhkan harapan terbaiknya,
terus terbang bersama spora-spora kecil
menggapai kutubnya sendiri—
untuk hinggap, singgah,
dan menetap dalam mimpi-mimpi malam yang tak pernah selesai.

Puisi yang indah penuh makna mendalam ๐Ÿƒ

Sunday, June 7, 2026

Untuk Apa?

Untuk apa?

Usai letih mengarungi arus... yang riaknya tiada berujung jauh,

kini kupilih menepi. Cukup. Aku enggan melangkah lebih jauh hanya untuk sibuk berburu hal yang semu.

Biar saja mereka di luar sana terus memperebutkan takhta dan tempat terhormat,

demi seonggok pengakuan sebagai sang profesional.

"Heoi, anjing kecil! Kau menyerah? Kau menolak masuk ke dalam daftar elite itu? Bukankah semua temanmu sedang tergila-gila untuk menembusnya?"

Kucatat saja setiap jengkal kemauannya, juga segala repetisi kata yang ia agungkan. Memang, tiada impresi sketsa wajah atau ekspresi nyata yang tertuang dari sosoknya. Namun, setiap huruf yang ia muntahkan sudah lebih dari cukup untuk melengkapi mimik dan gimik pongah tentang dirinya.

Maka, kupakai cara lama: hempaskan saja pengaruh semu yang ia tebarkan ke dalam kubangan lumpur yang kelak akan diinjaknya sendiri. Sebuah ego yang terlalu dangkal untuk dijadikan pegangan; sebuah model usang yang sama sekali tidak menumbuhkan apa-apa. Lagipula, ucapan selamat tinggal pun terlalu mewah untuk manusia sepertinya.

Lihatlah batu-batu alas yang kini mulai berakar. Mereka merekat kuat, tiada bergeser barang se-inci pun, bahkan saat hujan deras bagai ditumpahkan dari langit. Batas-batas prinsip masih berdiri nyata di sana, setiap marka masih utuh. Ketetapan hati dan ketepatan langkah inilah yang menuntun jiwa menjangkau presisi hidup yang hakiki.

Jalan yang kupilih ini bukanlah cara instan untuk menjadi sempurna, bukan pula sekadar proses amatir mencari yang terbaik. Siapa bilang anjing akan lupa pada gonggongan yang pernah menggetarkan batinnya, tatkala sebuah kebenaran sejati datang mendekat? Dia hanya tidak pernah belajar memilih kata yang pantas untuk keluar dari mulutnya—apalagi menghargai orang-orang yang pernah pasang badan bersamanya.

Maka, serahkan saja panggung kehormatan itu jika kau pandang perlu. Lagi pula, tempat penuh sandiwara itu memang sangat layak untuknya!

Wednesday, May 13, 2026

Seasal Coretan Milikmu

Malam itu engkau datang

Tiada pula kau bawakan 

Setangkai kembang.. 


Tiada wajahmu berias warna

Wasabi-sabi belum memudar 

Seadanya .... 

tanpa bintik-bintik buatan tanganmu

Berusaha mengambangkan langkah

Mimitik lembut bagai beralas luas

Hamparan daun-daun kering, 

Dalam keras usaha agar tiada menimbul, 

Gemerisik yang akan mengusik;

Ia yang sedang berdiam mengulik 

Dalamnya inti yang katanya kian banyak

Dicari tanpa membuka dan menutup

Setiap pembungkus-pembungkus;

Juga tiada keharusan menghancurkan

Menghancurkan setiap pelapis, 

Tarikan nafas dan langkah 

yang semakin kau satukan, 

Semakin mencantikkan ... ketidaksempurnaan

Perlambang boleh dimunculkan, 

Pun dalam kubangan;

Kau mungkin tiada mengerti, siapa yang telah kau bangunkan, 

Bisa jadi hingga kini, luput mengisahkan bagian ingatan, akan sebenarnya siapa yang tidak pernah bicara lelah, ... Tetap setia menemani. ๐Ÿฅธ


Thursday, April 30, 2026

Kirain Bisa

Lihat, ...

ia memang melihat setelahnya

Apa yang dihubungkan

Menjadi lebarnya penawar

Mengganti dianggapnya cara terbaru

Tanpa asap juga tanpa perapian

Kisah layar dingin membuatnya

mundur dari taburan cerita;


Tangga dan lantai lain kini berjubin, 

Dinaiki pilin menikung waspada dengan nyala lilin;

katanya pengoprek dalam jibaku sembunyi tempat, 

Tanpa maksud, tampan tujuan membuat panggilan singkat, 

Sambil menawarkan keasinan setetes air laut, siasat asalan tanpa meminta diturut;

Ngebul meneroscos selancar bibir pengibul, 

Nitip anu dan nitip pesannya, menggunung di berandan pesanggrahan yang terkadang seram dan suram hingga dikeramatkan;

Andai sempat langkahmu dulu kau sembunyikan, andai kepongahan tidak menjubali setiap ruah dan masih dalam ikatan semua cerita akan menjadi tidak sama,... Ini sebuah rumusan, bukan lagi lagi nilai sesal akan perlakuan dan pembagian, 

Ia sangat penyebut sebenarnya dan bukan kamuflase... Telah menjadi orang yang terbilang setelah melewati kesamaan jalan panjang sang petualang, katanya,... 

Masih banyak, ๐Ÿ˜† cuma lebih kurang telah tampak wajah malamu untuk dibingungkan semakin banyak๐ŸšŽ


Salah Tangkap

Salah Tangkap Salah Tangkap Kamu bukan penangkap, Tenanglah malam ini… Kamu tidak salah. ...