Walau ia tidak bersampul keras sebagai penutupnya...
Bahan jenis apa yang digunakan pun tiada jadi pintasan dalam pikiran...
Tidak pula ia bicara tentang macam dan beda warna pada isinya;
Semua telah tampak begitu rata,
Ketinggian permukaan bukanlah angka belaka, hitungan bukan milikku selain apa kata penyedia setiap ruas kosong tanpa pengertian sebenarnya;
Sekali dua kali ia hanya menyebut hal yang sama sebagai warna, sejumput kisah khayalan punya lukisan bidadari idaman tertuang sbagai kanvas penyeling canda galau hatinya;
Tiada puncak pengertianmu mampu menggapai apa maksudnya, sebagaimana aku yang hanya bisa berdiam membisu dalam dingin kala itu ;
Campur aduk menanti apa yang kelak mampu terbentuk, seolah semua yang dianggap petunjuk semakin merajuk hingga kian bergelayut hingga tertunduk, bagai tiada hentinya terpaan bertubi menghantarkan...kantuk
Sempatkah engkau mendengar ia menyapamu, atau teruntuk ia yang tak bernama...?
Mungkin banyak batu yang sudah dilihat,
bukan sedikit yang sudah dipilah,
cukup jumlah yang sudah diteliti,
Jamak yang sudah rapi berhasil disusun;
Menyisa lebih banyak dari semua itu, kemunculan tanya dan keingintahuan tentangnya, hingga dipertentangkan oleh yang telah menjadi ahli hingga yang dianggap ahli sampai-sampai yang merasa seperti ahli, ingin ikut bersuara, menyuarakan pendapat tentangnya, kehidupan jaman itu, setelah melihat kenampakkannya;
Di sana-sini, dalam berbagai posisi, mereka menimpali dengan cerita semampunya, dari arahnya, sudut pandangnya, tujuannya mungkin berbumbu keasalan hingga keisengannya, meskipun hanya satu yang pasti dari yang muncul akan dibumbui dengan kata "mungkin";
Menguntungkan, ya itu menyulitkan sekaligus menguntungkan mereka menjadi ringan menggunakan kata mungkin, bukankah itu pun masih dapat dimiliki oleh siapa pun yang berja dengan perhitungan dan rumus-rumus; apalagi jelas-jelas tidak ditemukan kata atau huruf yang ada pada batu-batu itu,
Saat kemasan perdebatan telah memuncak hingga ujungnya diredakan oleh kesadaran mereka sendiri, yang sebenarnya sangat ingin mengerti tentang apa semua itu, semua wajah semakin tampak lega, lega akan apa yang dibangunnya tiada lain adalah pikirannya, obyek masa kini yang meruncingkan bincang mungkin sama sekali tidak mengandung keterkaitan dengan tujuan masa lalu, semua lalu berandai bila saja ada tanda-tanda sebagai simbol penegas atau sesuatu yang dituliskan padanya pastilah semuanya akan menjadi lebih mudah untuk dimengerti..
Alright, listen up, dear! Time to take a crash course in the art of creating an emotional or mental space that's as cozy as a warm blanket on a chilly day. First, you gotta imagine your brain as a fancy hotel, and you're the manager. When someone tries to check in with their emotional baggage, you better be ready to slam that door in their face and say, "Sorry, we're full!"
Now, don't get all mushy on me. You need to establish some serious boundaries, like an electric fence around your feelings. Imagine a big ol' "KEEP OUT" sign plastered on your forehead, and if anyone tries to breach your emotional fortress, you better be ready to unleash your inner Hulk and smash them into oblivion.
Remember, your mental space is your sacred sanctuary, and you're the gatekeeper. So, put on your best poker face, channel your inner zen master, and let the world know that you're not here to play therapist. This is your emotional house, and you're the boss. Now, go forth and guard that mental fortress like your life depends on it!
Herein lies a concise and succinct delineation of the subject matter.
The present discourse elucidates the core tenets pertaining to the matter at hand.
This brief exposition outlines the salient points germane to the topic under consideration.
The following discourse provides a focused and articulate examination of the subject in question.
Herewithin, one shall find a refined and succinct exploration of the matter at hand.
Sudah berapa mereka yang telah pergi, meninggalkan tempat itu tanpa sempat melihat, tiada wajah menyempatkan menghitungnya...
Masihkah semua yang tersisa memberikan perhatian pada tempat yang disebut jalur terbaik untuk menuju tempat itu, atau tiadakah jalur-jalur selain itu yang memungkin untuk dilaluinya?
Yang tidak tampak oleh mereka, menjadi wajar bila tidak akan mengundang rasa ingin tahu kebanyakan orang...
Pakaian yang kau pilih dan dipakai, itu tampak, dapat dilihat oleh mata orang yang melihatmu, tidak sedikit orang yang mengaitkan tentang kepribadian seseorang dengan apa yang dikenakannya, dengan kata lain ada yang sampai melewati tidak hanya yang terlihat saja ....
Biasanya kemampuan semakin bertambah semakin orang menjadi dewasa, lalu akankah kemampuan hal seperti itu juga semakin tumbuh ketika orang semakin banyak uang dan hartanya, atau singkatnya semakin kaya?
Sekecil contoh terjadi pada kadai kecil di bawah pohon rindang, serombongan keluarga dalam perjalanannya yang tampak melelahkan beristirahat di sana, menikmati buah dan memesan sejumlah minuman buah segar. Anggota keluarga yang muda membahas bagaimana segarnya rasa dan istimewanya masing-masing pesanan mereka, sebagian ada yang bertukar mencicipi dari gelas saudaranya, ceria suasana mengisi obrolan itu; yang tua-tua ngobrol kian kemari tentang bahan hingga limbah dari semua kedai itu, tidak kurang satu pedagang juga menyahut dengan menunjuk kebun di belakang kedai itu. Rupanya yang ditunjukkan tentang semua limbah yang akhirnya kembali menyatu dengan tanah...
Ia tanpa perlu memapar bagaimana pengurai datang apalagi mendefinisikan bahwa limbahnya adalah bahan tambang pangan bagi semua pengurai, tahu bahwa mereka semua mampir untuk melepas lelah, juga mengusir kehausan..