Monday, June 8, 2026

Titik yang Tak Pernah Bertemu

Keuntungan Pertemuan Titik - Puisi

Keuntungan Pertemuan Titik

Sebuah meditasi tentang konvergensi dan makna

Logika di dalam ruang paling beku.
Ini tentang keduanya—dua sosok yang berdiri tegak dan kekar,
dalam kesejajaran yang nyaris sempurna.
Semua mata menatap arah ujung,
menyaksikan garis lurus yang tak pernah benar-benar bersua.
Apa yang terbentuk di ujung-ujung lain kian menjelas,
tanpa perlu menyudutkan pandangan mata demi kepastian ukuran.
Tiada guna membusungkan dada hingga membusur,
sekadar tampak akurat, pantas beroleh angka prestasi,
sembilan puluh, seratus, atau sekadar gengsi.
Bilakah keduanya akan bertemu di ujung yang sama—
menyimpul arti, atau justru mengoyak definisi
yang selama ini dianggap kunci terbaik bagi segala pengertian?
Ini masa berlini—masa ketika segalanya tampak teratur dalam kaidah,
namun tidak bagi diri yang melihat lebih luas dari sekadar jadah,
yang kematangannya dilebarkan di atas tampah beralas daun pisang bergetah,
lalu dipotong kecil-kecil untuk dibagikan sebagai jatah
kepada siapa pun yang masih dianggap bocah,
termasuk kaki-nini yang menatap keadaan itu
meronta perlahan, tertatih menjauh karena tak lagi betah.
Ia mengenali sebuah titik—jauh di ujung sana,
terpisah dari hiruk pikuk kehidupan yang memekakkan rungu.
Kekekaran dan ketegaran membawa arah yang sama,
namun semua tahu: tiada mungkin kedua ujung itu bersatu.
Katub keyakinan tentang tingginya keilmuan
disimpan sementara dalam kantung kesadaran.
Kubu yang dulu menolak karena sama,
kini menyatu karena beda.
Nilai-nilai hitungan yang dulu membanggakan,
mampukah kini dijadikan transaksi?
Menari-nari, debu mencari jati diri,
urat bertulang besi di balik labirin pemisah.
Sesamar pesan asmara berhasrat mencapai pelabuhan cinta,
melabuhkan harapan terbaiknya,
terus terbang bersama spora-spora kecil
menggapai kutubnya sendiri—
untuk hinggap, singgah,
dan menetap dalam mimpi-mimpi malam yang tak pernah selesai.

Puisi yang indah penuh makna mendalam 🍃

Sunday, June 7, 2026

Untuk Apa?

Untuk apa?

Usai letih mengarungi arus... yang riaknya tiada berujung jauh,

kini kupilih menepi. Cukup. Aku enggan melangkah lebih jauh hanya untuk sibuk berburu hal yang semu.

Biar saja mereka di luar sana terus memperebutkan takhta dan tempat terhormat,

demi seonggok pengakuan sebagai sang profesional.

"Heoi, anjing kecil! Kau menyerah? Kau menolak masuk ke dalam daftar elite itu? Bukankah semua temanmu sedang tergila-gila untuk menembusnya?"

Kucatat saja setiap jengkal kemauannya, juga segala repetisi kata yang ia agungkan. Memang, tiada impresi sketsa wajah atau ekspresi nyata yang tertuang dari sosoknya. Namun, setiap huruf yang ia muntahkan sudah lebih dari cukup untuk melengkapi mimik dan gimik pongah tentang dirinya.

Maka, kupakai cara lama: hempaskan saja pengaruh semu yang ia tebarkan ke dalam kubangan lumpur yang kelak akan diinjaknya sendiri. Sebuah ego yang terlalu dangkal untuk dijadikan pegangan; sebuah model usang yang sama sekali tidak menumbuhkan apa-apa. Lagipula, ucapan selamat tinggal pun terlalu mewah untuk manusia sepertinya.

Lihatlah batu-batu alas yang kini mulai berakar. Mereka merekat kuat, tiada bergeser barang se-inci pun, bahkan saat hujan deras bagai ditumpahkan dari langit. Batas-batas prinsip masih berdiri nyata di sana, setiap marka masih utuh. Ketetapan hati dan ketepatan langkah inilah yang menuntun jiwa menjangkau presisi hidup yang hakiki.

Jalan yang kupilih ini bukanlah cara instan untuk menjadi sempurna, bukan pula sekadar proses amatir mencari yang terbaik. Siapa bilang anjing akan lupa pada gonggongan yang pernah menggetarkan batinnya, tatkala sebuah kebenaran sejati datang mendekat? Dia hanya tidak pernah belajar memilih kata yang pantas untuk keluar dari mulutnya—apalagi menghargai orang-orang yang pernah pasang badan bersamanya.

Maka, serahkan saja panggung kehormatan itu jika kau pandang perlu. Lagi pula, tempat penuh sandiwara itu memang sangat layak untuknya!

Di Bawah Langit Purnama: Simfoni Tawa dan Jejak Sang Petunjuk

-->   Sentuhan Sastra dalam Kata Sentuhan Sastra dalam Kata: Menggali Kedalaman Makna ...